Toh mreka bisa maju!”
(Manager Kemahasiswaan FTUI)
Ya iya lah.. Emang di sana BOP bermasalah?
Emang di sana ada sekolah bocor/roboh?
Di sini banyak! & masih banyak lagi yg laen!
(saya)
PPAM (Proses Pembekalan Anggota Muda) merupakan satu hal yg biasa diselenggarakan lembaga kemahasiswaan (BEM, ikatan mahasiswa jurusan) di Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk menyambut mahasiswa barunya. Ada banyak pandangan tentang PPAM, entah itu perpeloncoan, ospek semimiliter, ga berguna, seru & bikin solid, dll. Lepas dari itu semua, menurut saya pribadi, PPAM merupakan wahana training terbesar yg pernah saya alami.
Mungkin ini karena selain saya mengalaminya saat baru jadi mahasiswa, saya juga akrab dg teman2 panitia yg susah payah menyiapkan PPAM. Saya yakin, ada juga ex peserta PPAM yg menyatakan PPAM tidak ada gunanya yg bisa jadi teman akrab saya juga.
Wahana training terbesar, bagaimana tidak? Dilihat dari pesertanya yg hampir 4 digit desimal, kepanitiaan yg persiapannya sudah dilakukan 1th sebelumnya & itu pun masih kurang, dan segudang nilai + metode yg dilampirkan. Sepenuhnya saya sadar, betapa besarnya manfaat PPAM yg bisa diperoleh pesertanya.
Masalahnya, beberapa tahun belakangan, PPAM menuai pelarangan dari Dekanat. Ada beberapa alasan yg sayup2 dari mulut ke mulut:
- pernah ada korban, misal peserta yg batal puasanya krn hukuman push-up
- pelanggaran panitia atas perjanjian, misal tidak boleh melebihi jam 6 sore
- dekanat ga suka senioritas (padahal ga diniatkan ada senioritas maupun perpeloncoan, melainkan pendidikan & pembekalan)
- manager kemahasiswaan di dekanat, yg merupakan alumni FT, dulu ga pernah ikut PPAM, & menurut dia itu ga berguna
- pihak UI menanggung beban dana terbesar dr FT, karena advokasi UP-BOP mahasiswa FT oleh lembaga kemahasiswaan FT berhasil memangkas dana terbesar (di antara fakultas lain se-UI) dr yg seharusnya dibayarkan mahasiswa (bayangin aja, saya, yg harusnya bayar 27jt-an, jd tinggal 900rb). Maka dekanat ingin mengkebiri kemahasiswaan sejak dr pembekalan calon penerusnya
- (apa lagi ya.. Kira2 yg lain ga jauh2 dari itu kayanya.. Kalo kurang tambahin ya..)
Sedangkan pihak lembaga kemahasiswaan beriskeras, mengingat pentingnya nama PPAM & nilai2 yg harus ditanamkan pada maba, juga untuk keberlanjutan kehidupan kemahasiswaan. Maka untuk PPAM 2009, panitia telah merubah banyak konsep PPAM dr tahun lalu, agar diizinkan.
Namun dekanat terus mengekang. Lobying yg dilakukan selalu bertemu janji manis & kenyataan pahit yg intinya dekanat tetap melarang segala bentuk PPAM. Ada yg bilang karena udah deket UTS, karena stiap tahun slalu ada pelanggaran dr panitia, dll.
Saking takutnya, dekatan jg mengancam peserta & panitia yg melaksanakan PPAM & Masa Bimbingan (‘training’ lanjutan setelah PPAM) dengan pencabutan beasiswa (padahal beasiswa itu kan hak yg ga mampu, ga nyambung dg kegiatan kemahasiswaan), skors kuliah 1 smester, & ancaman lainnya.
Di samping harus menanamkan nilai ke Maba, kini kelembagaan juga harus menuntut hak independennya yg terjajah. Akankah terjadi aksi? Padahal aksi bisa membahayakan masa bimbingan ke depannya.






Berlangganan RSS untuk komentar di post ini
:)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar